5 Penyebab Gangguan Pendengaran di Usia Muda yang Sering Diabaikan

5 Penyebab Gangguan Pendengaran di Usia Muda yang Sering Diabaikan

Sering meminta lawan bicara mengulang perkataan atau merasa suara televisi kurang keras? Jangan langsung menganggapnya sebagai masalah konsentrasi. Keluhan tersebut bisa menjadi tanda gangguan pendengaran, termasuk pada remaja dan dewasa muda.

Penyebabnya beragam, mulai dari paparan suara keras hingga masalah telinga yang sebenarnya dapat ditangani. Sebagian gangguan bersifat sementara, tetapi kerusakan pada telinga dalam dapat menetap. Memahami 5 penyebab gangguan pendengaran di usia muda yang sering diabaikan membantu Anda mengenali risiko dan mencari pertolongan tanpa menunggu keluhan memburuk.

Tanda Awal yang Perlu Diperhatikan

Gangguan pendengaran tidak selalu membuat seseorang langsung sulit mendengar semua suara. Perubahannya bisa perlahan dan baru terasa dalam situasi tertentu. Beberapa tanda yang patut diperhatikan meliputi:

  • Sulit memahami percakapan, terutama di tempat ramai.
  • Sering meminta orang lain berbicara lebih keras atau mengulang kalimat.
  • Menaikkan volume ponsel atau televisi melebihi kebiasaan sebelumnya.
  • Telinga berdenging, terasa penuh, atau mendengar lebih buruk pada satu sisi.
  • Merasa cepat lelah karena harus berkonsentrasi keras saat mendengarkan.

Keluhan tersebut tidak selalu menandakan kerusakan permanen. Namun, pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya, terutama bila gejala menetap, berulang, atau mengganggu aktivitas.

5 Penyebab Gangguan Pendengaran di Usia Muda

1. Paparan Suara Keras dari Earphone dan Lingkungan

Mendengarkan musik melalui earphone bukan otomatis berbahaya. Risiko muncul ketika volume terlalu keras, durasi terlalu lama, atau paparan berulang. Konser, klub malam, mesin kerja, dan aktivitas dengan suara ledakan juga dapat membahayakan pendengaran.

Suara berlebihan dapat merusak sel sensorik di telinga dalam. Kerusakan ini sering berlangsung bertahap dan umumnya tidak dapat dipulihkan. Telinga berdenging atau suara terasa teredam setelah berada di tempat bising merupakan tanda peringatan, bukan sesuatu yang sebaiknya dibiasakan.

Gunakan volume serendah mungkin yang tetap nyaman, manfaatkan fitur pemantauan paparan suara, dan ambil jeda di tempat tenang. Fitur peredam bising dapat membantu mengurangi kebutuhan menaikkan volume, tetapi bukan pengganti pelindung pendengaran untuk lingkungan kerja yang bising.

2. Penumpukan Kotoran Telinga akibat Cara Membersihkan yang Salah

Serumen atau kotoran telinga sebenarnya berfungsi melindungi liang telinga. Dalam keadaan normal, serumen dapat bergerak keluar dengan sendirinya. Namun, penumpukan yang menyumbat liang telinga bisa membuat suara terdengar lebih pelan, telinga terasa penuh, atau muncul denging.

Kebiasaan memasukkan cotton bud, jepit rambut, maupun alat korek justru dapat mendorong kotoran lebih dalam. Selain menyebabkan sumbatan, benda tersebut berisiko melukai liang telinga dan gendang telinga.

Gangguan akibat sumbatan serumen biasanya dapat membaik setelah ditangani dengan tepat. Bersihkan bagian luar telinga saja dan hindari ear candle. Jika merasa tersumbat, terutama disertai nyeri, cairan, atau riwayat gendang telinga berlubang, periksakan diri sebelum menggunakan obat tetes.

3. Infeksi Telinga dan Penumpukan Cairan di Telinga Tengah

Infeksi telinga tengah dapat menyebabkan nyeri, demam, serta penurunan pendengaran. Setelah infeksi saluran pernapasan, gangguan fungsi saluran eustachius juga dapat membuat cairan tertahan di belakang gendang telinga. Kondisi ini kadang hanya menimbulkan rasa penuh dan pendengaran teredam, tanpa nyeri yang mencolok.

Cairan tersebut menghambat penghantaran suara. Sebagian kasus membaik, tetapi keluhan yang menetap atau infeksi berulang perlu dievaluasi. Infeksi kronis yang tidak ditangani dapat merusak struktur telinga.

Jangan memakai antibiotik atau obat tetes sembarangan. Penanganan bergantung pada lokasi infeksi, kondisi gendang telinga, dan penyebabnya. Telinga yang mengeluarkan cairan, berbau, atau disertai nyeri berulang perlu diperiksa dokter.

4. Efek Samping Obat yang Bersifat Ototoksik

Beberapa obat dapat memengaruhi telinga dalam dan menimbulkan gangguan pendengaran, denging, atau gangguan keseimbangan. Contohnya adalah antibiotik golongan aminoglikosida seperti gentamisin, obat kemoterapi tertentu seperti cisplatin, serta beberapa diuretik pada kondisi atau dosis tertentu.

Risikonya berbeda pada setiap orang, dipengaruhi jenis obat, dosis, lama penggunaan, fungsi ginjal, dan kombinasi pengobatan. Tidak semua pengguna akan mengalami gangguan pendengaran, dan obat tersebut dapat tetap diperlukan untuk menangani penyakit serius.

Jangan menghentikan atau mengubah dosis obat sendiri. Beri tahu dokter bila muncul denging atau perubahan pendengaran selama terapi. Pada pengobatan berisiko, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan pendengaran sebelum dan selama penggunaan obat.

5. Cedera Kepala atau Telinga yang Dianggap Ringan

Benturan saat olahraga, kecelakaan, atau pukulan langsung pada telinga dapat mengganggu pendengaran. Cedera bisa mengenai gendang telinga, tulang pendengaran, maupun struktur telinga dalam. Keluhannya dapat berupa suara teredam, denging, nyeri, atau pusing berputar.

Jangan mengabaikan perubahan pendengaran setelah benturan hanya karena tidak terlihat luka dari luar. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan bagian yang terdampak dan menentukan penanganannya.

Gunakan helm dan perlengkapan pelindung sesuai aktivitas. Bila cedera disertai penurunan pendengaran, perdarahan dari telinga, sakit kepala berat, muntah, atau penurunan kesadaran, segera cari pertolongan medis.

Cara Melindungi Pendengaran Sejak Muda

Mulailah dengan kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan secara konsisten:

  1. Kurangi tingkat kebisingan dan lama paparan, termasuk saat menggunakan earphone.
  2. Kenakan penyumbat atau penutup telinga yang sesuai saat berada di lingkungan bising.
  3. Hindari memasukkan benda ke dalam liang telinga.
  4. Periksakan keluhan yang menetap dan diskusikan pemantauan pendengaran bila menggunakan obat berisiko.
  5. Jalani pemeriksaan pendengaran bila sering terpapar kebisingan atau mulai kesulitan berkomunikasi.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Pendengaran yang menurun mendadak dalam hitungan jam hingga beberapa hari, terutama pada satu telinga, perlu diperiksa segera pada hari yang sama. Kondisi ini dapat terjadi tanpa nyeri, dengan atau tanpa denging dan pusing. Jangan menganggapnya sekadar kotoran telinga; hubungi dokter THT atau datangi IGD jika layanan segera tidak tersedia.

Untuk keluhan yang berkembang perlahan, jadwalkan pemeriksaan dokter dan tes pendengaran. Mengetahui penyebab lebih awal membantu menentukan penanganan yang sesuai sekaligus mencegah paparan atau kebiasaan yang memperburuk kondisi.

Exit mobile version