Melihat kotoran di telinga anak sering membuat orang tua ingin segera membersihkannya. Cotton bud pun menjadi pilihan karena kecil, praktis, dan terasa mudah digunakan. Padahal, memasukkan cotton bud ke liang telinga justru berisiko mendorong kotoran semakin dalam dan menyebabkan cedera, terutama jika anak tiba-tiba bergerak.
Kabar baiknya, telinga memiliki mekanisme pembersihan alami. Orang tua umumnya hanya perlu merawat bagian luar, bukan mengorek bagian dalamnya. Berikut cara aman membersihkan telinga anak, sekaligus panduan mengenali kondisi yang membutuhkan pemeriksaan dokter.
Kotoran Telinga Bukan Berarti Telinga Tidak Bersih
Kotoran telinga, yang secara medis disebut serumen, merupakan zat alami yang membantu melindungi liang telinga. Serumen menjaga kelembapan kulit, menangkap debu dan partikel asing, serta membantu mempertahankan lingkungan yang menghambat pertumbuhan kuman.
Dalam keadaan normal, serumen bergerak perlahan menuju bagian luar telinga bersama pergantian sel kulit. Gerakan rahang ketika anak mengunyah atau berbicara turut membantu proses ini. Setelah mencapai bagian luar, kotoran dapat terlepas dengan sendirinya atau dibersihkan secara lembut.
Adanya serumen tidak otomatis berarti telinga anak kotor atau harus dikorek. Warna dan teksturnya dapat bervariasi. Jika anak tidak mengalami keluhan, kotoran yang berada di dalam liang telinga biasanya tidak perlu diangkat.
Mengapa Cotton Bud Sebaiknya Dihindari?
Ujung cotton bud mungkin terlihat mampu mengambil kotoran. Namun, ketika dimasukkan ke liang telinga, alat ini dapat mendorong sebagian serumen lebih dalam hingga menumpuk dan menyumbat.
Selain itu, kulit liang telinga cukup sensitif. Gesekan atau gerakan mendadak dapat menyebabkan luka, perdarahan, dan meningkatkan risiko infeksi. Jika masuk terlalu jauh, cotton bud juga bisa mencederai gendang telinga.
- Kotoran terdorong ke dalam: penumpukan dapat menimbulkan rasa penuh dan gangguan pendengaran.
- Liang telinga terluka: anak dapat merasa perih, nyeri, atau mengalami perdarahan.
- Gendang telinga cedera: risikonya meningkat jika alat terdorong mendadak.
Larangan ini juga berlaku untuk jari, jepit rambut, pinset, pengorek telinga, atau alat berkamera yang dimasukkan tanpa keahlian. Melihat kotoran melalui kamera tidak membuat tindakan mengoreknya menjadi aman.
Cara Aman Membersihkan Telinga Anak di Rumah
1. Siapkan kain lembut dan air hangat
Gunakan waslap atau kain bersih yang lembut. Basahi dengan air hangat suam-suam kuku, lalu peras hingga lembap dan tidak menetes. Tidak perlu menggunakan alkohol, cairan antiseptik, atau sabun pada lubang telinga.
2. Pastikan posisi anak nyaman
Pilih waktu ketika anak tenang, misalnya setelah mandi. Untuk bayi, sangga kepala dengan baik. Jangan memaksakan pembersihan saat anak meronta atau menangis karena gerakan mendadak dapat meningkatkan risiko cedera.
3. Usap daun telinga dan lipatannya
Bersihkan permukaan daun telinga, lipatan yang terlihat, serta bagian belakang telinga secara perlahan. Jika ada kotoran yang sudah keluar dan menempel di bagian luar lubang telinga, usap tanpa memasukkan kain atau ujung jari ke dalamnya.
4. Keringkan bagian luar
Gunakan kain kering yang lembut untuk menepuk area luar telinga. Jangan menggosok keras. Setelah mandi, bila ada air yang terasa tertahan, anak yang sudah cukup besar dapat memiringkan kepala agar air keluar sendiri. Hindari memasukkan benda untuk menyerap air di dalam liang telinga.
5. Berhenti jika anak merasa sakit
Pembersihan bagian luar seharusnya tidak menimbulkan nyeri. Jika anak mengeluh sakit, terlihat sangat tidak nyaman, atau muncul darah maupun cairan, hentikan tindakan. Jangan mencoba membersihkan lebih dalam untuk mencari penyebabnya.
Prinsip utamanya: bersihkan yang terlihat di luar, jangan mengorek yang berada di dalam. Tidak ada kewajiban membersihkan liang telinga setiap hari; cukup rawat bagian luar saat tampak kotor atau masih basah setelah mandi.
Bagaimana Jika Kotoran Telinga Mengeras atau Menyumbat?
Penumpukan serumen terkadang menyebabkan telinga terasa penuh, gatal, berdenging, atau pendengaran berkurang. Pada anak kecil, perubahan pendengaran mungkin terlihat dari kebiasaan menaikkan volume televisi atau sering tidak merespons panggilan. Namun, keluhan tersebut tidak selalu disebabkan oleh kotoran telinga.
Jika dicurigai ada sumbatan, periksakan anak ke dokter. Dokter dapat melihat kondisi liang dan gendang telinga, lalu menentukan apakah kotoran perlu dikeluarkan serta metode yang sesuai.
Jangan menyemprotkan air, melakukan irigasi, atau meneteskan minyak, hidrogen peroksida, maupun cairan pelunak serumen tanpa arahan tenaga kesehatan. Pemilihan obat tetes perlu mempertimbangkan usia dan kondisi telinga anak. Penggunaannya terutama perlu dihindari tanpa pemeriksaan jika ada nyeri, cairan keluar, dugaan gendang telinga berlubang, tabung ventilasi telinga, atau riwayat operasi telinga.
Hindari pula ear candle atau terapi lilin telinga. Cara ini tidak terbukti efektif membersihkan serumen dan berisiko menyebabkan luka bakar maupun cedera telinga.
Kapan Anak Perlu Dibawa ke Dokter?
Segera minta pemeriksaan jika anak mengalami:
- Nyeri telinga yang menetap, berat, atau disertai demam.
- Cairan bernanah, berbau, atau darah keluar dari telinga.
- Pendengaran berkurang atau anak tampak kesulitan mendengar.
- Pusing berputar, gangguan keseimbangan, atau keluhan setelah telinga dikorek.
- Bengkak atau kemerahan di belakang telinga, terutama jika disertai demam atau anak tampak sakit.
Penurunan pendengaran yang terjadi mendadak memerlukan penilaian medis segera. Jika ada benda asing di telinga, jangan mencoba mengambilnya dengan alat atau membilasnya. Dugaan baterai kancing masuk ke telinga merupakan keadaan darurat dan harus segera dibawa ke IGD.
Telinga Sehat Tidak Harus Bebas Serumen
Membersihkan telinga anak bukan berarti menghilangkan seluruh kotorannya. Serumen justru memiliki fungsi perlindungan. Cukup bersihkan bagian luar dengan kain lembut, hindari cotton bud di liang telinga, dan konsultasikan keluhan yang muncul agar penanganannya sesuai kondisi anak.












